TORANG PE KAMPUNG
- WANUA TREMAN
- NEGRI, TONSEA
- Sebuah situs yang mengangkat serta mengatur frofil, latar belakang, dan sejarah Desa Treman dan dapat mengakses berita- berita terbaru yang terjadi di Wanua Tareuman Jaya. media internasional yang di drived oleh seorang anak muda peduli, penasaran identitas dan asal - usulnya yang berasal dari wanua ini juga. disini juga bisa mendapat masukkan, tanggapan serta krtikan dari orang - orang Treman yang diluar dan didalam maupun darimana mana saja dengan. klik www.chandra-dengah-rooroh.blogspot.com Alamat : Jl. A. Mononutu, Kec Kauditan - Kab. Minahasa Utara - Sulawesi Utara - kode pos. 95372 telp. -
The Epic Journey!!
(puisi untuk perjalanan Wanuaku yang tercinta)
From Walantakan to Kelewer…
From Kelewer to Keraris…
From Keraris Tengetwatu Eris…
From Eris to Tongkeina…
From Tongkeina to Minawanua…
From Minawanua to Tareuman Jaya…
(Ch. D. Rooroh)
Kumentar lagu Wanua
Kamis, 04 Desember 2008
SEJARAH SINGKAT WANUA TREMAN
Awal mulanya disekitar pertengahan tahun 1525 dari sekelompok masyarakat kecil dari desa walantakan, sebutan sebuah daerah waktu itu yang sekarang disebut TONSEA LAMA atas pimpinan Dotu lengkong, Wulur dan Rensina bersama- sama dengan Tonaas Paruntu dan Makalew. Mereka bermufakat untuk mencari tempat baru dan dijadikan pemukiman/ wanua tempat tinggal mereka (Tumani), merekapun berkelana ke arah utara mengikuti Kuala Sawangan (Sungai Sawangan) untuk mencari tempat tinggal dan tempat pertama yang mereka temui mereka namakan KELEWER (daerah sekitar pegunungan Dembean).
Selanjutnya setelah kurang lebih 7 tahun lamanya mereka tinggal menetap disitu dengan melalui ritual- ritual adapt, mereka bermohon kepada Opo Empung (Tuhan yang maha Kuasa), melalui kepercayaan waktu itu dengan perantaraan burung Manguni (Doyot) bahwa tempat itu belum dikabulkan maka pada tahun 1532 tempat itu mereka tinggalkan pindah kearah utara dan sampailah mereka disuatu tempat yang mereka namakan tempat itu KERARIS. Juga ditempat itu sesuai dengan apa yang mereka alami ditempat pertama ini juga tidak cocok bagi mereka, maka pada tahun 1539 mereka berpindah lagi menuju arah timur dan sampailah mereka disuatu tempat yang oleh mereka namakan tempat itu TENGETWATU (yang sekarang daerah itu dikenal dengan sebutan ERIS (didaerah selatan perkebunan Wanua treman), tempat ini juga terdapat peninggalan sejarah yaitu Lesung yang terbuat dari batu (TengetWatu).
Pada tahun 1546 mereka (rombongan keluarga) berpindah lagi, juga tempat ini belum direstui Opo Empung (Tuhan yang Maha Kuasa) karena banyak gangguan antara penyakit, serbuan bangsa luar dan lain – lain, maka menujulah mereka kearah timur dan sampailah mereka disuatu tempat yang bernama TONGKEINA. Pada akhir tahun 1691, oleh Dotu Lengkong, Tonaas Paruntu dan Makalew serta rombongnya dengan melalui ritual adat melalui permohonan pada Opo Empung (Tuhan yang Kuasa) dengan perantaraan burung Manguni (Doyot) saat itu mereka mendapat suatu jawaban bahwa tempat ini sudah diKabulkan atau sudah mendapat restu dari Opo Empung (Tuhan yang Kuasa) yang dalam bahasa daerahnya : Tareuman kinalelean ni Opo Empung Pamikiwean atau inilah jawaban dari Tuhan yang Kuasa yang resminya nama desa tersebut adalah : TAREUMAN (saat ini tempat tersebut disebut – sebut dengan naman MINAWANUA yaitu bekas Kampung atau desa dan tempat ini banyak terdapat peninggalan sejarah dimana sebagai bukti Kuburan Tua (Waruga). Diantaranya terdapat Waruga Dotu Lengkong, juga dari peninggalan tersebut tedapat bekas benteng pertahanan yang mengelilingi tebing antara lain batu – batu besar serta rumpun bamboo yang unik yaitu bamboo yang mempunyai duri – duri yang melingkar.
Selanjutnya selama 160 tahun mereka bermukim mereka bergeser lagi kearah utara dan tempat itu mereka namakan TAREUMAN UNET/PINECISAN. Stelah mereka bermukim kurang lebih 40 tahun atau pada tahun 1801 mereka bergeser lagi sedikit kesebelah utara karena rombongan masyarakat ini sudah berkembang besar maka dari sebagian rombongan tinggal menetap ditempat ini dan mereka namakan tempat tinggal ini TAREUMAN WANGKO dan saat ini sudah menjadi tempat tinggal yang abadi dan kekal serta namanya sekarang disebut TREMAN. Menurut data dan penuturan dari para leluhur dan nenek moyang yang diwariskan kepada cucu- cucunya bahwa pada tahun 1684 dan sebelumnya belum ada suatu pemerintahan yang sah oleh karena Dotu dan rombongannya bersama – sama Tonaas Paruntu dan Makalew pada waktu itu selalu berpindah – pindah tempat pemukiman. Baru kemudian di akhir bulan ke- 3 tahun1685 ditempat yang bernama TONGKEINA mereka berusaha membentuk suatu pemerintahan yang dihulubalangi oleh Tonaas. Pada permulaan tahun 1698 dengan resminya mulai diadakan pemilihan Hukum Tua dan sebagai Hukum Tua yang Pertama ialah LENGKONG yaitu sejak 1698 s/d 1718 (selama 20 thn). Seterusnya sampai dengan Hukum Tua sekarang yang ke- 32 ialah Hukum Tua BERNHARD WOLTER JOHANIS TUWAIDAN (periode 2007 s/d 2013).
b. penetapan Hari Ulang Tahun Wanua Treman.
Hari ulang tahun Wanua ditetapkan melalui suatu perumusan dari tokoh – tokoh masyarakat, tokoh adapt serta masyarakat lainnya yang mengetahui atau menerima atas data dan penuturan dari para leluhur/ nenek moyang yang diwariskan dan disesuaikan dengan data – data yang berkaitan dengan pengolahan sejarah Wanua. Maka sebagai hasil perumusan tersebut dicetuskanlah Hari Ulang Tahun Desa Treman yang jatuh pada tanggal 31 maret dan untuk hari ulang tahun yang pertama dilaksanakan pada tanggal 31 maret 1981 (HUT ke 296 dimasa pemerintahan Hukumn Tua Nicodemus Tuwaidan, Hukum Tua ke 28). Saat ini desa Treman sudah melaksanakan hari ulang tahun desa yang ke- 323, pada tanggal 31 maret 2008 (1685 – 2008).
c. Penetapan Motto dan Logo.
Dimasa periode Hukum Tua BERNADUS B. MEKEL (1988 – 1999) dengan melalui musyawarah LMD, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat, Tokoh Agama, LKMD, Perangkat Desa, dan masyarakat lainnya berkenaaan dengan pelaksanaan HUT desa ke- 304 (1685 – 2008) Ditetapkan moto desa Treman ialah : RONDOREN WO WANGUNEN UM BANUA. Sedangkan untuk logo Wanua/ desa ialah bergambar latar belakang gunung klabat, pohon kelapa dan areal pertanian ladang/ sawah.
Sumber : Dok. pengolahan sejarah desa.
ORANG - ORANG JAGO DARI TREMAN
FUTURE ECONOMIC MASTER LEADER
(PEGGY A. MEKEL. SE,MA) Wakil ketua Pemuda Sinode GMIM, General Manager Sigma capital Manado, Member of World Curch Council... Jangan salah, ni cewe ini orang Tonsea, mar dia pe darah asli treman, depe nama beking bagus kampung treman... ngoni boleh bakudapa dengan dia setiap hari minggu lantaran dia jaga pulang treman
ARCHELOUS TUWAIDAN DENG ISTRI
Anggota DPRD MINAHASA UTARA, Orang Treman yang penuh dengan dedikasi serta sadar membangun tanah tercintanya, tanah leluhurnya, dibuktikan dengan penghargaan tertinggi (Lifetime Achievement Awarad) langsung dari Kepala Negara.. mempunyai pemikiran yang Realitas, peduli masa depan Tou muda minahasa... I jaja U santi!
Sebuah Essei jurnalistik dari dan untuk Tou Minahasa yang Ber- Mawale ke tempat asalnya.
“Dia sedang bergerak pulang ke Tanah asalnya”
Setelah perjalananku dengan teman- teman terhenti sejenak, akupun kembali kampung halamanku, desa Treman untuk beristirahat. Matahari telah tunduk pada Dewi Bulan waktu aku tiba di kampung tanggal 23 november lalu.
Disela- sela keramaian aku tertegun oleh kehadiran sesosok wanita yang tinggi tegap dengan pembawaan yang wibawa, perawakan yang orientalis dan penuh percaya diri sedang duduk dipanggung kehormatan mungkin istilahnya yang bersebelahan dengan wkl. Ketua 1 pemuda Gmim bid. Misio. Pnt. Peggy Mekel, sebelah kirinya ada Sdr. Janto Tuwaidan, Sdr. Jimmy Tuwaidan, Sdri Ningke Pangemanan dan juga ada Pdt. N. Tuegeh Pinaria. MTh, Ukung (Hukum Tua) Wanua Treman, Bpk. B.W.J. Tuwaidan serta para undangan. Setelah lebih dekat lagi kearah panggung aku baru tau ternyata dia Fransisca M. Tuwaidan atau akrab dipanggil “Etha”. Rasa senang dan bangga akupun mendekat, siapapun pasti senang kalau melihat saudaranya yang telah lama meninggalkan kampung halaman dan kini sudah berada kembali bersama- sama? Memang sewaktu masih anak- anak dulu saya mengenalnya sedikit dekat tapi sejak Etha pergi ke
Mencari penjelasan kasana- kemari walaupun dengan berbagai sub-versi, mensurvei keadaan yang ada dikampungku, bejalan- jalan tiap sore di kampung, mendengar omong kosong kiri kanan sekalian saja melepaskan rasa penatku yang setelah beberapa waktu terakhir ba-Ron di Minahasa akhirnya aku mendapat kesimpulan sendiri. “Etha sementara mawale (kembali ke asal dan mencari identitasnya sendiri), Etha pulang modatang bangun kampung, Etha modatang cari ulang depe sudara- sudara, Etha brani kaseh tinggal depe kesibukan di
Laporan : Ch. D. Rooroh
“MAAF, TONSEA TIDAK TIDUR! “
Oleh : Chandra D. Rooroh
Terpaan angin dingin gunung klabat tak membeku gejolak pemuda-pemudi Treman, desa yang berpenduduk sekitar 3000 jiwa ini, untuk mengadakan iven seni. Di langsungkan dengan nama “ Malam Kreatifitas Seni Pemuda Treman 2005“. Tak lepas dari gebyar hari kemerdekaan, acara seni ini sangat diresponi oleh masyarakat Treman dan sekitarnya. Tak kurang dari 500 pasang mata turun memadati acara di panggung terbuka pingiran jalan Minawerot kecamatan Kauditan. Turut hadir dalam acarah tersebut adalah Sekertaris desa Treman bpk, J. Katuuk dari unsur pemerintah, Pdt, I. Makalew Pongoh, bpk. Lengkong Tasiam mewakili unsur pemuka agama, dan dihadiri wakil ketua 1 pemuda sinode GMIM Pnt, Peggy A. Mekel SE.MA. yang juga adalah penanggung jawab acara ini. Acara yang dilaksanakan pada 17 agustus lalu ini dimulai pukul tepat pukul 18.00 wita ini berlangsung kurang lebih tiga jam. Acara ini didahulukan dengan ibadah pendek dan diteruskan oleh pergelaran kolsborasi seni dari Studio Eben Haizer dengan jumlah personil 15 orang diantaranya ada juga peteater yang memotori jalannya pentas seperti Erick Waturandang, Arke Pinontoan, Vino Mekel, Ryan Pontoh, Robert Mandagi dan Norman Tondok, serta pedenser sekaligus peteater Mayshel Kusen, Imelda Ngangi, Prilly Mekel, Pretty Lewu, Norman Sayangbati, Frandy Mawuntu, yang tampil dengan naskah berjudul “Rumahku Tuhan, Rumahku Hantu “ yang ditulis serta disutradarai oleh penulis sendiri. Pemuisi-pemuisi yang tampil sebagai pendukung pada teater tersebut misalnya, Jemmy Katuuk STh, Amelia Rotty dan Raymon Tangkudung. Pentas kolaborasi tari-puisi-teater ini berlangsung hikmat, mistis dan kental aroma adat Minahasa digabungkan dengan diangkatnya isu-isu kontemporer Minahasa. Ini mengandung arti biarpun satu era berganti, oleh modernisasi sekalipun, namun seni budaya sudah seharusnya tetap ada dan terpelihara dengan pewujudan yang kontemporer pula tentunya. Kemudian, lewat acara ini para kreator-kreator seni muda dapat mengapresiasikan talenta-talenta mereka dalam suatu wadah (sanggar) yang telah ada di desa ini sehingga dapat lebih terarah dan profesional. Pagelaran acara ini adalah sebuah jawaban terbuka terhadap “provokasi” menantang daerah-daerah pedalaman untuk bangkit ber-seni yang telah digelindingkan oleh pegiat-pegiat sastra dan budaya sulut dari Komunitas Pekerja Sastra (KONTRA) Sulut, Teater Kronis Manado, Sanggar Dodoku Wuwuk, Studio X Sonder, Komunitas Soesube Koha, Teater Ungu Tondano, dan kamerad-kamerad budaya lainnya yang sedang giat-giatnya menghembuskan angin “Renaisans Sastra-Budaya Minahasa”, kebangkitan kesadaran identitas bangsa Minahasa, yang mengajak kita untuk “ mawale “ atau kembali ke “rumah”, kembali membangun lokalitas. Lewat kegiatan ini nyata bahwa seni di Tonsea tidak tidur apalagi mati dan akan selalu terjaga, selama intensitas kegiatan-kegiatan seni-budaya dan pembangunan kantong-kantong seniman seperti sanggar, teater, kelompok seni, dan sebagainya masih tetep dipertahankan. Akhir kata, giliran saya ingin berucap: “Kalu Manado sudah, Sonder sudah, Tareran sudah dan Koha sudah, sekarang Treman juga sudah, no skarang sapa le?”.

0 komentar:
Poskan Komentar