TORANG PE KAMPUNG

NEGRI, TONSEA
Sebuah situs yang mengangkat serta mengatur frofil, latar belakang, dan sejarah Desa Treman dan dapat mengakses berita- berita terbaru yang terjadi di Wanua Tareuman Jaya. media internasional yang di drived oleh seorang anak muda peduli, penasaran identitas dan asal - usulnya yang berasal dari wanua ini juga. disini juga bisa mendapat masukkan, tanggapan serta krtikan dari orang - orang Treman yang diluar dan didalam maupun darimana mana saja dengan. klik www.chandra-dengah-rooroh.blogspot.com Alamat : Jl. A. Mononutu, Kec Kauditan - Kab. Minahasa Utara - Sulawesi Utara - kode pos. 95372 telp. -

The Epic Journey!!


(puisi untuk perjalanan Wanuaku yang tercinta)

From Walantakan to Kelewer…

From Kelewer to Keraris…

From Keraris Tengetwatu Eris…

From Eris to Tongkeina…

From Tongkeina to Minawanua…

From Minawanua to Tareuman Jaya…



(Ch. D. Rooroh)

Kumentar lagu Wanua

Tareuman, wanua koki Menangkaki gunung kelabat Mena un tinouangku Aki witu ku minasela Tareuman, wanua kendis, Nyaku rumendem umbanuaku Pa’ad rumae kumawuri, Rendemku wia niko Reff: Wanua Tareuman, aki Tonsea Wanua gagahku,aki mena ndou Wanua Tareuman Tareuman,wia genangku Nyaku wia sengkotan Nyaku so’o mate wia Tareuman, oh wanuaku Cipt :Hans Katuuk/thn 80an

TREMAN PE LAMBANG

TREMAN PE LAMBANG

HUKUM TUA WANUA TREMAN PERIODE (2007 - 2013)

HUKUM TUA WANUA TREMAN PERIODE (2007 - 2013)
BERNHARD WOLTER JOHANIS TUWAIDAN

Kamis, 04 Desember 2008

ACARA PERKAWINAN MENURUT TRADISI WANUA TREMAN

• Mai Kumewit

Istilah Mai kumewit adalah istilah pertama dalam langkah menuju perkawinan yaitu pihak laki – laki akan pergi kerumah pihak perempuan dan menanyakan apakah dia perempuan itu tidak/ belum mempunyai hubungan dengan laki – laki/ orang lain.

• Maso Minta
Apabila pihak perempuan belum mempunyai hubungan dengan yang lain maka selanjutnya pihak laki – laki akan langsung menanyakan atau langsung meminang (maso minta) kepada keluarga perempuan apakah yang bersangkutan ( permpuan) itu boleh menikah secara sah dengan pihak laki – laki.

• Pekoan (persiapan acara perkawinan)
Dalam acara tradisi budaya ini adalah bagaimana kedua pihak hendak mengatur acara perkawinan, bagaimana pembagian kegiatan dan fasilitas serta kebutuhan anggaran dan dana baik dari pihak perempuan dan laki – laki. Disini pula aka nada acara kecil yang disebut (Padontaan), artinya ; apabila ada dari pihak perempuan atau laki – laki yang mempunyai saudara perempuan lebih tua dan belum kawin biasanya diberikan sesuatu oleh adik laki – laki yang akan melaksanakan perkawinan lebih dulu.

• Makawadi (antar harta)
Acara ini berkaitan pihak keluarga laki – laki yang akan membawa harta kekayaannya untuk diberikan kepada pihak keluaraga perampuan. Biasanya pada jaman dahulu kalau harta yang dibawa pihak laki – laki belum memenuhi syarat maka pihak perempuan belum bisa menerima pinangan laki – laki dan berujung pada pembatalan acara perkawinan.

• Pesta Perkawinan
1. Sumaru : wakil pihak laki – laki akan pergi mendahului keluarga untuk berbicara dengan wakil pihak keluarga perempuan untuk meminta izin mengambil perempuan itu dalam ikatan perkawinan yang sah.
2. Ibadah : biasanya dilakukan sesuai denga agama dan kepercayaan yang telah di setujui bersama apabila ada perbedaan agama.
3. Resepsi : dalam tredisi orang treman setelah perkawinan dilakukan akan dilakukan jamuan makan besar – besaran dan ini dibuat dirumah pihak keluarga perempuan karena mayoritas pesta dilakukan dirumah pihak perempuan

• Balas Gereja
Acara ini biasa dilakukan setelah acara pesta perkawinan berlangsung. Dan biasanya dilakukan di rumah pihak Laki – laki. Di dalam acara ini setelah ibadah, jamuan kasih dan ramah tamah ada acara tradisi Pengasihan yaitu ; dimana pihak keluarga baik laki – laki maupun perempuan akan memberikan sesuatu kepada anak – anak mereka yang baru melaksanakan perkawinan untuk dijadikan bekal pertama berkeluarga.

Catatan : biasanya pada hal- hal begini mempertemukan kembali keluarga dimanapun mereka berada. Sumber Dok. Wanua Treman

0 komentar:

Dia yang telah dilupakan

Dia yang telah dilupakan
Corporal KNIL. E. LONGDONG (Om Dondok)

----------------

-----------

Pusaka Dotu Warouw

Pusaka Dotu Warouw
Pusaka yang telah berada di generasi ke 9 Dotu Warouw

napa yang punya Pusaka...

napa yang punya Pusaka...
Judy Lengkong

------------------

------------

ORANG - ORANG JAGO DARI TREMAN

napa tu orang - orang jago dari treman, dorang tele tu sekarang so kaseh- kaseh Top tu nama treman di luar daerah sampe luar negri!!!

FUTURE ECONOMIC MASTER LEADER

FUTURE ECONOMIC MASTER LEADER
(PEGGY A. MEKEL. SE,MA) Wakil ketua Pemuda Sinode GMIM, General Manager Sigma capital Manado, Member of World Curch Council... Jangan salah, ni cewe ini orang Tonsea, mar dia pe darah asli treman, depe nama beking bagus kampung treman... ngoni boleh bakudapa dengan dia setiap hari minggu lantaran dia jaga pulang treman

Ir. Joppy Lengkong

Ir. Joppy Lengkong
Kepala Dinas Kehutanan Minahasa Amian

GENERAL MANAGER PT. EGATRA TOUR Depok Town square Jakarta

GENERAL MANAGER PT. EGATRA TOUR Depok Town square Jakarta
JIMMY TUWAIDAN DENG ISTRI..

ARCHELOUS TUWAIDAN DENG ISTRI

ARCHELOUS TUWAIDAN DENG ISTRI
Anggota DPRD MINAHASA UTARA, Orang Treman yang penuh dengan dedikasi serta sadar membangun tanah tercintanya, tanah leluhurnya, dibuktikan dengan penghargaan tertinggi (Lifetime Achievement Awarad) langsung dari Kepala Negara.. mempunyai pemikiran yang Realitas, peduli masa depan Tou muda minahasa... I jaja U santi!

Purn. Kombes Pol. H. K. Lengkong

Purn. Kombes Pol. H. K. Lengkong
Ketua 5, Paimpuluan u nuwu ne Tonsea, Ketua BPD Wanua Treman

Fransisda M Tuwaidan

Fransisda M Tuwaidan

Sebuah Essei jurnalistik dari dan untuk Tou Minahasa yang Ber- Mawale ke tempat asalnya.


“Dia sedang bergerak pulang ke Tanah asalnya”

Setelah perjalananku dengan teman- teman terhenti sejenak, akupun kembali kampung halamanku, desa Treman untuk beristirahat. Matahari telah tunduk pada Dewi Bulan waktu aku tiba di kampung tanggal 23 november lalu. Ada hangar bingar kecil terdengar ketika aku berjalan di seputaran lapangan Esamokan. Yaaa, itu tak lain adalah pertandingan bola voli dan lari 5x1000 meter antar pemuda se-sinode GMIM yang dilakukan di kampungku, aku juga mungkin salah satu panitianya (maklum hidupku jarang dirumah).

Disela- sela keramaian aku tertegun oleh kehadiran sesosok wanita yang tinggi tegap dengan pembawaan yang wibawa, perawakan yang orientalis dan penuh percaya diri sedang duduk dipanggung kehormatan mungkin istilahnya yang bersebelahan dengan wkl. Ketua 1 pemuda Gmim bid. Misio. Pnt. Peggy Mekel, sebelah kirinya ada Sdr. Janto Tuwaidan, Sdr. Jimmy Tuwaidan, Sdri Ningke Pangemanan dan juga ada Pdt. N. Tuegeh Pinaria. MTh, Ukung (Hukum Tua) Wanua Treman, Bpk. B.W.J. Tuwaidan serta para undangan. Setelah lebih dekat lagi kearah panggung aku baru tau ternyata dia Fransisca M. Tuwaidan atau akrab dipanggil “Etha”. Rasa senang dan bangga akupun mendekat, siapapun pasti senang kalau melihat saudaranya yang telah lama meninggalkan kampung halaman dan kini sudah berada kembali bersama- sama? Memang sewaktu masih anak- anak dulu saya mengenalnya sedikit dekat tapi sejak Etha pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib saya sudah hampir tidak pernah melihanya lagi. Kata saudara- saudara di kampung, pakakaan ini (sebutan hormat untuk saudara yang lebih tua dikampung) telah menjadi seorang Pengusaha yang sangat sukses dijakarta (salah satunya usahanya yaitu Presiden PT. Egatra Tour). Lalu kanapa dia kembali? Kenapa dia ada disini? Aku tau dia memang orang Treman, aku juga terasuk kerabatnya walau belum tau ikatan keluarganya darimana tapi apa maksudnya dia pulang kalau dia sedang punya ribuan kesibukan di Jakarta??

Mencari penjelasan kasana- kemari walaupun dengan berbagai sub-versi, mensurvei keadaan yang ada dikampungku, bejalan- jalan tiap sore di kampung, mendengar omong kosong kiri kanan sekalian saja melepaskan rasa penatku yang setelah beberapa waktu terakhir ba-Ron di Minahasa akhirnya aku mendapat kesimpulan sendiri. “Etha sementara mawale (kembali ke asal dan mencari identitasnya sendiri), Etha pulang modatang bangun kampung, Etha modatang cari ulang depe sudara- sudara, Etha brani kaseh tinggal depe kesibukan di jakarta for molia depe tanah kelahiran, deng kalo qta mobilang nyanda ada sto orang minahasa rupa Etha yang boleh sama deng Etha pe pikiran skarang, bahkan Orang- orang yang sedang tinggal disini”. Mungkin konsep berpikirnya Etha adalah “Think Globaly, Act Locally”, mungkin saat ini Etha mempunyai kerinduan terbesar dalam mind setnya untuk membantu memulai kehidupan yang baru di Minahasa bagian utara ini khususnya di Treman.. Apapun itu tetap “katoro ni Empung” atau kembali pada yang Kuasa, lantaran kalau pakakaan berpikir begitu, berarti aku dan Etha mempunyai visi, konsep dan pemikiran yang sama walaupun dengan jalan dan nasib yang berbeda. Dan Etha tidak sendiri karena ada Gerakan “Mawale Movement” yang akan siap di belakangmu, sebuah gerakan sadar budaya, ingat asal- usul dan sedang kembali ke asal untuk mencari identitas diri Tou Minahasa! “for qta, nyanda ada pikiran- pikiran laeng yang qta anggap pa Etha, lantaran sapapun dia, darimanapun dia, kalau perduli, memahami dengan masyarakat dan tanah adat minahasa, berarti dia so bapikir tentang yang Terdahulu, sekarang, dan kedepan secara sadar, positif, dan luas untuk Minahasa, dan Etha sedang Menatap Tanahnya, jangan lupa lia akang tu batu Nona Kema, batu lisung Makalisung, Tenget watu Treman, Tumatenden airmadidi, Tumi’deng lembean dan waruga- waruga yang mulai hilang satu persatu, dan identitas- identitas lain yang sudah mulai hilang dari tanah Tonsea karena barangsiapa menghormati identitas terutama identitas para leluhur, dia akan dihormati identitasnya. Etha sedang pulang ketempat asalnya, Mari kita berjuang bersama- sama, I Jajat U Santi…

Laporan : Ch. D. Rooroh

CHANDRA D. ROOROH

CHANDRA D. ROOROH
Penulis, penyair, wartawan Budaya dari Treman

Dendam Rumput Liar

Dendam Rumput Liar

“MAAF, TONSEA TIDAK TIDUR! “

Sebuah catatan yang menjadi Rintisan bangkitnya kembali kesdaran berseni budaya di Tana TONSEA khususnya di wanua- wanua Treman yang di motori oleh sekelompok pemuda yang peduli akan identitasnya yang asli serta hormat akan leluhur- leluhur, agama dan tardisi. tulisan ini telah di muat dalam media massa antara lain Manado Post & Swara Kita serta Media- media elektronik lainnya yang mengambil Tema : Tentang Malam Kreativitas Seni Studio Eben Haezer Treman

Oleh : Chandra D. Rooroh

Terpaan angin dingin gunung klabat tak membeku gejolak pemuda-pemudi Treman, desa yang berpenduduk sekitar 3000 jiwa ini, untuk mengadakan iven seni. Di langsungkan dengan nama “ Malam Kreatifitas Seni Pemuda Treman 2005“. Tak lepas dari gebyar hari kemerdekaan, acara seni ini sangat diresponi oleh masyarakat Treman dan sekitarnya. Tak kurang dari 500 pasang mata turun memadati acara di panggung terbuka pingiran jalan Minawerot kecamatan Kauditan. Turut hadir dalam acarah tersebut adalah Sekertaris desa Treman bpk, J. Katuuk dari unsur pemerintah, Pdt, I. Makalew Pongoh, bpk. Lengkong Tasiam mewakili unsur pemuka agama, dan dihadiri wakil ketua 1 pemuda sinode GMIM Pnt, Peggy A. Mekel SE.MA. yang juga adalah penanggung jawab acara ini. Acara yang dilaksanakan pada 17 agustus lalu ini dimulai pukul tepat pukul 18.00 wita ini berlangsung kurang lebih tiga jam. Acara ini didahulukan dengan ibadah pendek dan diteruskan oleh pergelaran kolsborasi seni dari Studio Eben Haizer dengan jumlah personil 15 orang diantaranya ada juga peteater yang memotori jalannya pentas seperti Erick Waturandang, Arke Pinontoan, Vino Mekel, Ryan Pontoh, Robert Mandagi dan Norman Tondok, serta pedenser sekaligus peteater Mayshel Kusen, Imelda Ngangi, Prilly Mekel, Pretty Lewu, Norman Sayangbati, Frandy Mawuntu, yang tampil dengan naskah berjudul “Rumahku Tuhan, Rumahku Hantu “ yang ditulis serta disutradarai oleh penulis sendiri. Pemuisi-pemuisi yang tampil sebagai pendukung pada teater tersebut misalnya, Jemmy Katuuk STh, Amelia Rotty dan Raymon Tangkudung. Pentas kolaborasi tari-puisi-teater ini berlangsung hikmat, mistis dan kental aroma adat Minahasa digabungkan dengan diangkatnya isu-isu kontemporer Minahasa. Ini mengandung arti biarpun satu era berganti, oleh modernisasi sekalipun, namun seni budaya sudah seharusnya tetap ada dan terpelihara dengan pewujudan yang kontemporer pula tentunya. Kemudian, lewat acara ini para kreator-kreator seni muda dapat mengapresiasikan talenta-talenta mereka dalam suatu wadah (sanggar) yang telah ada di desa ini sehingga dapat lebih terarah dan profesional. Pagelaran acara ini adalah sebuah jawaban terbuka terhadap “provokasi” menantang daerah-daerah pedalaman untuk bangkit ber-seni yang telah digelindingkan oleh pegiat-pegiat sastra dan budaya sulut dari Komunitas Pekerja Sastra (KONTRA) Sulut, Teater Kronis Manado, Sanggar Dodoku Wuwuk, Studio X Sonder, Komunitas Soesube Koha, Teater Ungu Tondano, dan kamerad-kamerad budaya lainnya yang sedang giat-giatnya menghembuskan angin “Renaisans Sastra-Budaya Minahasa”, kebangkitan kesadaran identitas bangsa Minahasa, yang mengajak kita untuk “ mawale “ atau kembali ke “rumah”, kembali membangun lokalitas. Lewat kegiatan ini nyata bahwa seni di Tonsea tidak tidur apalagi mati dan akan selalu terjaga, selama intensitas kegiatan-kegiatan seni-budaya dan pembangunan kantong-kantong seniman seperti sanggar, teater, kelompok seni, dan sebagainya masih tetep dipertahankan. Akhir kata, giliran saya ingin berucap: “Kalu Manado sudah, Sonder sudah, Tareran sudah dan Koha sudah, sekarang Treman juga sudah, no skarang sapa le?”.

Wale bekas Hukum Tua Ny. E. Tuwaidan Pangemanan

Wale bekas Hukum Tua Ny. E. Tuwaidan Pangemanan

Wale Bekas Hukum Tua K. Lengkong

Wale Bekas Hukum Tua K. Lengkong

Wale Bekas Hukum Tua J. Pangemanan

Wale Bekas Hukum Tua J. Pangemanan

Wale bekas Kumtua Bpk. B.B. Mekel

Wale bekas Kumtua Bpk. B.B. Mekel

Wale bekas Hukum Tua Nico Tuwaidan

Wale bekas Hukum Tua Nico Tuwaidan

Lapangan "Plein" Treman

Lapangan "Plein" Treman
paling rame kalo 17 agustus

Strat- strat Wanua TREMAN

CUMA MO KASEH TUNJUNG NOH.. SAPA TAU ADA YANG SO 100 TAONG DI LUAR TREMAN KONG SO LUPA LORONG!! hehehehe..

Lorong satu

Lorong satu
seblah drja pas pinggir waruga

Lorong dua

Lorong dua
seblah Greja bagian barat

Lorong koki

Lorong koki
tampa barmaing akang 'woku-woku' waktu kacili

Lorong bok bawah

Lorong bok bawah
pas di muka SD teladan

Lorong anam

Lorong anam
paling top di antara lorong-lorong

Lorong kota pagi

Lorong kota pagi
bilang kota pagi lantaran stiap pagi rame deng anak skolah smp katu kwa

MINAWANUA TAREUMAN

300 METER DARI LORONG ANAM KONG KE BAWAH.. SEBENARNYA BOLEH JADI ASET PARIWISATA DENGAN MENJAGA KELESTARIANNYA.. MAR MUDAH-MUDAHAN ADA ORANG TREMAN YANG MO PULANG KONG LIA NOH!