TORANG PE KAMPUNG
- WANUA TREMAN
- NEGRI, TONSEA
- Sebuah situs yang mengangkat serta mengatur frofil, latar belakang, dan sejarah Desa Treman dan dapat mengakses berita- berita terbaru yang terjadi di Wanua Tareuman Jaya. media internasional yang di drived oleh seorang anak muda peduli, penasaran identitas dan asal - usulnya yang berasal dari wanua ini juga. disini juga bisa mendapat masukkan, tanggapan serta krtikan dari orang - orang Treman yang diluar dan didalam maupun darimana mana saja dengan. klik www.chandra-dengah-rooroh.blogspot.com Alamat : Jl. A. Mononutu, Kec Kauditan - Kab. Minahasa Utara - Sulawesi Utara - kode pos. 95372 telp. -
The Epic Journey!!
(puisi untuk perjalanan Wanuaku yang tercinta)
From Walantakan to Kelewer…
From Kelewer to Keraris…
From Keraris Tengetwatu Eris…
From Eris to Tongkeina…
From Tongkeina to Minawanua…
From Minawanua to Tareuman Jaya…
(Ch. D. Rooroh)
Kumentar lagu Wanua
Kamis, 04 Desember 2008
ACARA PERKAWINAN MENURUT TRADISI WANUA TREMAN
Istilah Mai kumewit adalah istilah pertama dalam langkah menuju perkawinan yaitu pihak laki – laki akan pergi kerumah pihak perempuan dan menanyakan apakah dia perempuan itu tidak/ belum mempunyai hubungan dengan laki – laki/ orang lain.
• Maso Minta
Apabila pihak perempuan belum mempunyai hubungan dengan yang lain maka selanjutnya pihak laki – laki akan langsung menanyakan atau langsung meminang (maso minta) kepada keluarga perempuan apakah yang bersangkutan ( permpuan) itu boleh menikah secara sah dengan pihak laki – laki.
• Pekoan (persiapan acara perkawinan)
Dalam acara tradisi budaya ini adalah bagaimana kedua pihak hendak mengatur acara perkawinan, bagaimana pembagian kegiatan dan fasilitas serta kebutuhan anggaran dan dana baik dari pihak perempuan dan laki – laki. Disini pula aka nada acara kecil yang disebut (Padontaan), artinya ; apabila ada dari pihak perempuan atau laki – laki yang mempunyai saudara perempuan lebih tua dan belum kawin biasanya diberikan sesuatu oleh adik laki – laki yang akan melaksanakan perkawinan lebih dulu.
• Makawadi (antar harta)
Acara ini berkaitan pihak keluarga laki – laki yang akan membawa harta kekayaannya untuk diberikan kepada pihak keluaraga perampuan. Biasanya pada jaman dahulu kalau harta yang dibawa pihak laki – laki belum memenuhi syarat maka pihak perempuan belum bisa menerima pinangan laki – laki dan berujung pada pembatalan acara perkawinan.
• Pesta Perkawinan
1. Sumaru : wakil pihak laki – laki akan pergi mendahului keluarga untuk berbicara dengan wakil pihak keluarga perempuan untuk meminta izin mengambil perempuan itu dalam ikatan perkawinan yang sah.
2. Ibadah : biasanya dilakukan sesuai denga agama dan kepercayaan yang telah di setujui bersama apabila ada perbedaan agama.
3. Resepsi : dalam tredisi orang treman setelah perkawinan dilakukan akan dilakukan jamuan makan besar – besaran dan ini dibuat dirumah pihak keluarga perempuan karena mayoritas pesta dilakukan dirumah pihak perempuan
• Balas Gereja
Acara ini biasa dilakukan setelah acara pesta perkawinan berlangsung. Dan biasanya dilakukan di rumah pihak Laki – laki. Di dalam acara ini setelah ibadah, jamuan kasih dan ramah tamah ada acara tradisi Pengasihan yaitu ; dimana pihak keluarga baik laki – laki maupun perempuan akan memberikan sesuatu kepada anak – anak mereka yang baru melaksanakan perkawinan untuk dijadikan bekal pertama berkeluarga.
Catatan : biasanya pada hal- hal begini mempertemukan kembali keluarga dimanapun mereka berada. Sumber Dok. Wanua Treman
ORANG - ORANG JAGO DARI TREMAN
FUTURE ECONOMIC MASTER LEADER
(PEGGY A. MEKEL. SE,MA) Wakil ketua Pemuda Sinode GMIM, General Manager Sigma capital Manado, Member of World Curch Council... Jangan salah, ni cewe ini orang Tonsea, mar dia pe darah asli treman, depe nama beking bagus kampung treman... ngoni boleh bakudapa dengan dia setiap hari minggu lantaran dia jaga pulang treman
ARCHELOUS TUWAIDAN DENG ISTRI
Anggota DPRD MINAHASA UTARA, Orang Treman yang penuh dengan dedikasi serta sadar membangun tanah tercintanya, tanah leluhurnya, dibuktikan dengan penghargaan tertinggi (Lifetime Achievement Awarad) langsung dari Kepala Negara.. mempunyai pemikiran yang Realitas, peduli masa depan Tou muda minahasa... I jaja U santi!
Sebuah Essei jurnalistik dari dan untuk Tou Minahasa yang Ber- Mawale ke tempat asalnya.
“Dia sedang bergerak pulang ke Tanah asalnya”
Setelah perjalananku dengan teman- teman terhenti sejenak, akupun kembali kampung halamanku, desa Treman untuk beristirahat. Matahari telah tunduk pada Dewi Bulan waktu aku tiba di kampung tanggal 23 november lalu.
Disela- sela keramaian aku tertegun oleh kehadiran sesosok wanita yang tinggi tegap dengan pembawaan yang wibawa, perawakan yang orientalis dan penuh percaya diri sedang duduk dipanggung kehormatan mungkin istilahnya yang bersebelahan dengan wkl. Ketua 1 pemuda Gmim bid. Misio. Pnt. Peggy Mekel, sebelah kirinya ada Sdr. Janto Tuwaidan, Sdr. Jimmy Tuwaidan, Sdri Ningke Pangemanan dan juga ada Pdt. N. Tuegeh Pinaria. MTh, Ukung (Hukum Tua) Wanua Treman, Bpk. B.W.J. Tuwaidan serta para undangan. Setelah lebih dekat lagi kearah panggung aku baru tau ternyata dia Fransisca M. Tuwaidan atau akrab dipanggil “Etha”. Rasa senang dan bangga akupun mendekat, siapapun pasti senang kalau melihat saudaranya yang telah lama meninggalkan kampung halaman dan kini sudah berada kembali bersama- sama? Memang sewaktu masih anak- anak dulu saya mengenalnya sedikit dekat tapi sejak Etha pergi ke
Mencari penjelasan kasana- kemari walaupun dengan berbagai sub-versi, mensurvei keadaan yang ada dikampungku, bejalan- jalan tiap sore di kampung, mendengar omong kosong kiri kanan sekalian saja melepaskan rasa penatku yang setelah beberapa waktu terakhir ba-Ron di Minahasa akhirnya aku mendapat kesimpulan sendiri. “Etha sementara mawale (kembali ke asal dan mencari identitasnya sendiri), Etha pulang modatang bangun kampung, Etha modatang cari ulang depe sudara- sudara, Etha brani kaseh tinggal depe kesibukan di
Laporan : Ch. D. Rooroh
“MAAF, TONSEA TIDAK TIDUR! “
Oleh : Chandra D. Rooroh
Terpaan angin dingin gunung klabat tak membeku gejolak pemuda-pemudi Treman, desa yang berpenduduk sekitar 3000 jiwa ini, untuk mengadakan iven seni. Di langsungkan dengan nama “ Malam Kreatifitas Seni Pemuda Treman 2005“. Tak lepas dari gebyar hari kemerdekaan, acara seni ini sangat diresponi oleh masyarakat Treman dan sekitarnya. Tak kurang dari 500 pasang mata turun memadati acara di panggung terbuka pingiran jalan Minawerot kecamatan Kauditan. Turut hadir dalam acarah tersebut adalah Sekertaris desa Treman bpk, J. Katuuk dari unsur pemerintah, Pdt, I. Makalew Pongoh, bpk. Lengkong Tasiam mewakili unsur pemuka agama, dan dihadiri wakil ketua 1 pemuda sinode GMIM Pnt, Peggy A. Mekel SE.MA. yang juga adalah penanggung jawab acara ini. Acara yang dilaksanakan pada 17 agustus lalu ini dimulai pukul tepat pukul 18.00 wita ini berlangsung kurang lebih tiga jam. Acara ini didahulukan dengan ibadah pendek dan diteruskan oleh pergelaran kolsborasi seni dari Studio Eben Haizer dengan jumlah personil 15 orang diantaranya ada juga peteater yang memotori jalannya pentas seperti Erick Waturandang, Arke Pinontoan, Vino Mekel, Ryan Pontoh, Robert Mandagi dan Norman Tondok, serta pedenser sekaligus peteater Mayshel Kusen, Imelda Ngangi, Prilly Mekel, Pretty Lewu, Norman Sayangbati, Frandy Mawuntu, yang tampil dengan naskah berjudul “Rumahku Tuhan, Rumahku Hantu “ yang ditulis serta disutradarai oleh penulis sendiri. Pemuisi-pemuisi yang tampil sebagai pendukung pada teater tersebut misalnya, Jemmy Katuuk STh, Amelia Rotty dan Raymon Tangkudung. Pentas kolaborasi tari-puisi-teater ini berlangsung hikmat, mistis dan kental aroma adat Minahasa digabungkan dengan diangkatnya isu-isu kontemporer Minahasa. Ini mengandung arti biarpun satu era berganti, oleh modernisasi sekalipun, namun seni budaya sudah seharusnya tetap ada dan terpelihara dengan pewujudan yang kontemporer pula tentunya. Kemudian, lewat acara ini para kreator-kreator seni muda dapat mengapresiasikan talenta-talenta mereka dalam suatu wadah (sanggar) yang telah ada di desa ini sehingga dapat lebih terarah dan profesional. Pagelaran acara ini adalah sebuah jawaban terbuka terhadap “provokasi” menantang daerah-daerah pedalaman untuk bangkit ber-seni yang telah digelindingkan oleh pegiat-pegiat sastra dan budaya sulut dari Komunitas Pekerja Sastra (KONTRA) Sulut, Teater Kronis Manado, Sanggar Dodoku Wuwuk, Studio X Sonder, Komunitas Soesube Koha, Teater Ungu Tondano, dan kamerad-kamerad budaya lainnya yang sedang giat-giatnya menghembuskan angin “Renaisans Sastra-Budaya Minahasa”, kebangkitan kesadaran identitas bangsa Minahasa, yang mengajak kita untuk “ mawale “ atau kembali ke “rumah”, kembali membangun lokalitas. Lewat kegiatan ini nyata bahwa seni di Tonsea tidak tidur apalagi mati dan akan selalu terjaga, selama intensitas kegiatan-kegiatan seni-budaya dan pembangunan kantong-kantong seniman seperti sanggar, teater, kelompok seni, dan sebagainya masih tetep dipertahankan. Akhir kata, giliran saya ingin berucap: “Kalu Manado sudah, Sonder sudah, Tareran sudah dan Koha sudah, sekarang Treman juga sudah, no skarang sapa le?”.

0 komentar:
Poskan Komentar